Pertemuan Awal Project Steering Committee TIWA
Dili, Timor-Leste — Upaya Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Lintas Batas Negara antara Indonesia dan Timor-Leste memasuki babak penting melalui penyelenggaraan The Project Steering Committee (PSC) Meeting for Timor Island Watersheds (TIWA) Project pada 6 Mei 2026 di Novo Turismo Hotel, Dili.
Pertemuan ini menjadi ruang strategis bagi para pemangku kepentingan dari kedua negara untuk meninjau kemajuan proyek di tahun fiskal 2026 sekaligus menyusun arah prioritas ke depan, termasuk rencana kerja dan anggaran untuk tahun 2027. Lebih dari sekadar forum koordinasi, PSC menjadi titik temu komitmen bersama antara Indonesia dan Timor-Leste untuk memastikan pengelolaan DAS Lintas Batas Negara tidak hanya berfokus pada aspek lingkungan, tetapi juga menyentuh keberlanjutan kehidupan masyarakat di wilayah perbatasan.
Acara dibuka secara resmi oleh Direktur Jenderal Kehutanan Kementerian Kehutanan Timor-Leste, Hermenegildo Granadeiro de Almeida, yang menekankan bahwa pertemuan ini merupakan momen penting dalam memberikan arahan strategis bagi Project Management Unit. Ia menyoroti pentingnya aksi nyata di lapangan, mulai dari reboisasi dari hulu ke hilir, pengurangan sedimentasi di titik-titik kritis, hingga penguatan ketahanan iklim bagi petani di DAS Talau Loes dan Mota Masin. Baginya, pengelolaan DAS tidak hanya soal menjaga lingkungan, tetapi juga tentang memastikan keberlanjutan sumber air dan mata pencaharian masyarakat.
Dari sisi implementasi proyek, Manuel Mendez, Country Director Conservation International Timor-Leste, menyampaikan bahwa kedua negara telah menyelesaikan pemetaan dan analisis pemangku kepentingan. Saat ini, proyek tengah memasuki tahap Transboundary Diagnostic Analysis (TDA), yang akan menjadi dasar dalam merumuskan rencana aksi bersama. Selain itu, tengah disiapkan kerangka acuan kerja untuk penguatan pembentukan POKJA DAS Lintas Batas Negara yang memadukan perwakilan dari Indonesia dan Timor-Leste. Lebih jauh, ia juga mengingatkan pentingnya memikirkan keberlanjutan proyek sejak dini, termasuk peluang replikasi di enam DAS lintas batas lainnya di kawasan perbatasan kedua negara.
Apresiasi terhadap capaian proyek juga disampaikan oleh Prapti Bhandary, Director of Project Development and Oversight CI-GEF Project Agency of Conservation International. Ia menilai bahwa tim pelaksana telah menunjukkan kerja keras dalam menghadapi berbagai tantangan. Namun demikian, ia menegaskan bahwa perjalanan masih panjang dan membutuhkan komitmen kolektif. Menurutnya, kunci keberhasilan proyek ini terletak pada perencanaan bersama dan kemampuan memobilisasi kemitraan lintas sektor, guna memenuhi komitmen global sekaligus menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan.
Dari Indonesia, perwakilan Kementerian Kehutanan, Catur Basuki Setyawan, Kepala Subdirektorat (Kasubdit) Perencanaan Pengelolaan DAS, Direktorat Perencanaan dan Pengawasan Pengelolaan DAS, Ditjen PDASRH, menyampaikan bahwa proses penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Conservation International untuk pelaksanaan program TIWA tengah berlangsung. Dalam skema ini, Kementerian Kehutanan akan menegaskan perannya sebagai Executing Agency, sementara Inovasi Tangguh Indonesia (InTI) sebagai Co-Executing Agency sehingga anggota Project Steering Committee dari Indonesia bisa segera diputuskan. Saat ini Kementerian Kehutan menekankan bahwa program TIWA ini berpotensi untuk berkontribusi dalam pengembangan program lain seperti Peace Forest Initiative, khususnya dalam upaya rehabilitasi hutan di wilayah perbatasan Indonesia dan Timor-Leste.
Sementara Johan Rachmat Santosa selaku Pimpinan Teknis TIWA Indonesia dari InTI menekankan bahwa sejauh ini kemajuan program yang signifikan di proyek TIWA meliputi keberhasilan proyek untuk memfasilitasi pelaksanan kajian-kajian mendasar penting seperti Kajian dan Pemetaan Pemangku Kepentingan dan Kebijakan terkait tata kelola DAS 2 negara serta memfasilitasi proses awal pendirian Kelompok Kerja Bersama Pengelola DAS Perbatasan di 2 negara dan Gugus Tugas Komunitas di 2 DAS Lintas Batas Negara yang juga sudah dilibatkan dalam proses awal penyusunan TDA.
Natalino Babo Martins, selaku Pimpinan Teknis TIWA di Timor-Leste dari CI Timor-Leste menambahkan berdasarkan kemajuan program tahun ini, ke depan prioritas program di tahun 2027 baik untuk Indonesia dan Timor-Leste adalah untuk mempersiapkan penyusunan Program Aksi Strategis (SAP) berdasarkan prioritas permasalahan yang ditemukan dalam kajian TDA ke depan dan mempersiapkan SOP untuk panduan kerja Pokja dan Gugus Tugas serta memfasilitasi kegiatan peningkatan kapasitas yang diperlukan baik oleh Pokja dan Gugus Tugas dalam mengawal pelaksanaan TDA dan juga melaksanakan SAP yang akan dirumuskan. Pertemuan ini turut dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan dari Timor-Leste, termasuk perwakilan kementerian, otoritas daerah dari Bobonaro dan Kovalima, GEF Focal Point, serta tim Conservation International Timor-Leste. Dari Indonesia, hadir perwakilan Kementerian Kehutanan dan Inovasi Tangguh Indonesia.
Diskusi yang berlangsung tidak hanya menyoroti capaian, tetapi juga memperkuat kesadaran bahwa pengelolaan DAS lintas batas membutuhkan pendekatan kolaboratif yang melampaui batas administratif. Keterlibatan multipihak menjadi fondasi untuk memastikan bahwa setiap intervensi yang dilakukan mampu menjawab tantangan ekologis sekaligus sosial-ekonomi di tingkat tapak.
Sebagai tindak lanjut dari pertemuan Project Steering Committee ini, kegiatan dilanjutkan dengan pertemuan internal antara Conservation International, Inovasi Tangguh Indonesia (InTI), dan Conservation International Timor-Leste (CI-TL). Pertemuan ini difokuskan untuk memperdalam koordinasi teknis, menyelaraskan langkah implementasi ke depan, serta memastikan bahwa arahan strategis dari PSC dapat diterjemahkan secara efektif ke dalam rencana kerja operasional.
Dengan langkah awal ini, proyek TIWA tidak hanya membangun kerangka kerja kolaboratif antarnegara, tetapi juga membuka jalan bagi model pengelolaan DAS yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan—bagi lingkungan, masyarakat, dan generasi mendatang. (InTI)