Hari Kedua Lokakarya PRA: GTK Memperdalam Analisis Desa

Setelah pada hari pertama para anggota Gugus Tugas Komunitas (GTK) DAS Talau Loes dan Mota Masin memetakan wilayah desa, hari kedua lokakarya di Atambua membawa mereka masuk lebih dalam, membaca perubahan, mengingat peristiwa, dan memahami hubungan antara manusia dan lingkungannya. Memahami sebuah desa tidak cukup dalam satu langkah.

Pelatihan Participatory Rural Appraisal (PRA) di hari kedua berlanjut dengan pendekatan yang semakin praktis. Peserta mulai menelusuri sejarah desanya masing-masing, terutama yang berkaitan dengan bencana dan alih guna lahan. Banjir, kekeringan, longsor, hingga perubahan hutan dan sungai dibahas bersama, termasuk bagaimana aktivitas manusia ikut membentuk kondisi di kedua wilayah DAS hari ini. Dari situ, mulai terlihat bahwa kondisi yang ada sekarang adalah hasil dari proses panjang, bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Pemahaman ini menjadi pintu masuk untuk berpikir lebih jauh tentang bagaimana desa-desa tersebut bisa mengelola DAS secara lebih adaptif ke depan melalui perencanaan Pembangunan yang berkelanjutan.

Pembelajaran kemudian berkembang ke berbagai teknik lain yang membantu melihat desa dari sudut yang berbeda. Melalui transek, peserta memahami kondisi wilayah dari hulu hingga hilir. Lewat kalender musim, mereka membaca ritme kehidupan Masyarakat, masa tanam, panen, hingga periode sulit, dan melihat perubahan yang terjadi dari waktu ke waktu. Diskusi juga menyentuh peran berbagai kelompok  dan lembaga di desa, sekaligus menggali akar persoalan yang dihadapi masyarakat. Menggunakan diagram kelembagaan para peserta memahami peran berbagai kelompok dan lembaga dalam kehidupan masyarakat, serta bagaimana hubungan di antaranya terbentuk. Di sisi lain, pohon masalah membantu menggali akar persoalan secara lebih sistematis, menghubungkan penyebab, masalah utama, dan dampaknya, sehingga solusi yang dirumuskan tidak hanya menyentuh masalah-masalah di permukaan.

Melalui teknik ranking dan scoring, peserta kemudian belajar menentukan prioritas berdasarkan perspektif masyarakat. Proses ini menjadi penting untuk memastikan bahwa intervensi yang direncanakan benar-benar menjawab kebutuhan yang paling mendesak. Dari sana, peserta belajar menyusun prioritas, menentukan masalah mana yang paling mendesak untuk ditangani berdasarkan perspektif warga sendiri. Seluruh proses ini saling terhubung, membantu peserta melihat desa secara lebih utuh, bukan hanya sebagai ruang, tetapi juga dinamika dan perubahan yang terjadi di wilayah desa tersebut. PRA menjadi ruang belajar bersama, di mana pengalaman masyarakat menjadi dasar untuk membuat perencanaan ke depannya.

Bekal ini akan segera dibawa kembali ke desa. Dalam waktu dekat, GTK akan mempraktikkan langsung seluruh proses ini di wilayah desa masing-masing, menggali informasi, memperkuat partisipasi, dan mendorong pengelolaan DAS yang lebih inklusif, adaptif dan berkelanjutan dari tingkat tapak. (InTI)

Share