Membangun Ketangguhan Lintas Batas
Di balik batas administratif antara Republik Indonesia dan Republik Demokratik Timor-Leste, masyarakat di perbatasan antara 2 negara sebetulnya terhubung melalui beberapa ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) lintas batas negara. Dua di antaranya adalah DAS Talau–Loes dan Mota Masin. Kedua wilayah DAS ini bukan sekadar bentang alam tetapi sebuah kesatuan sistem hidrologis hulu, tengah dan hilir, yang menghubungan komunitas yang tinggal di 2 negara, yang menjamin ketersediaan air, pangan dan penghidupan melalui keseimbangan ekologinya. Ekosistem DAS ini sekaligus menjadi benteng bagi keanekaragaman hayati untuk memitigasi risiko-risiko bencana khususnya yang dipicu oleh perubahan iklim. Singkatnya, baik atau buruknya kondisi ekosistem di sini akan langsung berdampak pada kapasitas masyarakat di 2 DAS tersebut dalam menjaga ketahanan pangan dan penghidupan berkelanjutan. Sayangnya, kawasan DAS ini terus berada di bawah tekanan lingkungan dan sosial yang kian berat. Merujuk pada penelitian dasar tahun 2021, terlihat jelas adanya ancaman nyata seperti penggundulan hutan terkait perubahan tata guna lahan, degradasi lahan, erosi tanah, hingga krisis air yang mulai menghantui. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan karena masyarakat setempat memiliki kerentanan ekonomi yang tinggi dan sangat bergantung pada daya dukung alam untuk bertahan hidup. Belum lagi tantangan perubahan iklim dan cuaca ekstrem yang sering kali memicu bencana kekeringan, banjir, dan merosotnya hasil panen petani. Meskipun data awal terkait permasalahan tata kelola di kedua DAS sudah tersedia, masih dibutuhkan adanya informasi yang lebih menyeluruh mengenai permasalahan prioritas pengelolaan DAS di sana agar tata kelola DAS di sana bisa lebih efektif dan terpadu. Mengingat sifatnya yang melintasi batas negara, upaya perlindungan lingkungan di Kawasan DAS ini menuntut lebih dari sekadar riset ilmiah, namun juga diperlukan penguatan kerja sama masyarakat perbatasan maupun institusi yang solid antara Indonesia dan Timor-Leste.
Guna menjawab tantangan tersebut, melalui dukungan Conservation International (CI) dan Global Environment Facility (GEF), proyek Management of Indonesia–Timor-Leste Transboundary Watersheds (MITLTW), atau yang akrab disebut Timor Island Watersheds (TIWA) memfasilitasi diselenggarakannya Transboundary Diagnotic Analysis (TDA) yang akan mengkaji secara menyeluruh baik secara ekologis, sosial, ekonomi dan budaya mengenai permasalahan tata kelola DAS di 2 DAS tersebut. Harapannya, dengan menemukenali akar-akar permasalahan prioritas yang ada, upaya strategis untuk mengatasinya bisa dirumuskan sehingga DAS Talau–Loes dan Mota Masin tetap mampu memberikan layanan ekosistem yang penting sambil memastikan ketahanan air dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. Di sinilah peran TDA menjadi sangat krusial sebagai alat analisis utama. TDA bekerja secara sistematis untuk memetakan masalah lingkungan prioritas, melihat dampaknya terhadap alam dan manusia, serta menggali hingga ke akar penyebab masalah yang terjadi. Dengan memadukan sains, fakta lapangan, dan suara para pemangku kepentingan utamanya masyarakat yang tinggal di Kawasan DAS, TDA membangun basis data dan informasi kuat yang nantinya akan memandu arah kebijakan serta aksi nyata melalui Strategic Action Programme (SAP). Untuk pelaksanaan TDA ini, Inovasi Tangguh Indonesia (InTI) selaku Co-Executing Agency proyek MITLTW/TIWA di Indonesia bekerja sama dengan Tim Peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana, Kupang, NTT. Tim ini pula yang sebelumnya melakukan kajian yang menghasilkan data awal (baseline data) untuk proyek MITLTW/TIWA.
Secara metodologi, kajian TDA ini tidak hanya terpaku pada satu aspek saja, melainkan menggabungkan analisis aspek biofisik, ekonomi sosial, hingga kelembagaan. Hal ini sesuai dengan panduan pelaksanaan TDA dari CI-GEF dan juga berdasarkan Panduan Pelaksanaan Kajian Karakteristik DAS dari pemerintah Indonesia yang sudah disepakati oleh Pemerintah Timor-Leste pada saat Lokakarya Awal Program TIWA di Kupang di bulan Mei 2025 lalu. Pendekatan lintas aspek ini menajamkan pemahaman kita bahwa masalah lingkungan sering kali berakar dari kondisi sosial, cara mengelola (tata kelola), dan aktivitas ekonomi di wilayah DAS tersebut. Pada aspek biofisik, para ahli membedah pola iklim, sistem air, perubahan tutupan lahan, hingga kesehatan tanah. Di sini, teknologi satelit dan Sistem Informasi Geografis (GIS) digunakan untuk memantau perubahan lingkungan, yang kemudian dibuktikan langsung melalui pengecekan di lapangan.
Data teknis TDA saja tidak cukup jika melupakan aspek manusianya oleh karena itu analisis sosio-ekonomi menjadi pilar penting karena ketergantungan warga terhadap daya dukung alam sangat besar, sehingga TDA ini juga akan memotret kondisi pendapatan keluarga, ketahanan pangan, hingga akses air bersih. Melalui metode survei, diskusi kelompok (FGD), dan wawancara mendalam, perspektif masyarakat lokal dalam beradaptasi dengan perubahan lingkungan dapat ditangkap secara utuh sebagai data primer. Semua ini dilengkapi dengan analisis kelembagaan untuk melihat sejauh mana aturan hukum, kapasitas lembaga, dan mekanisme kerja sama lintas batas yang sudah berjalan, dengan tetap mengedepankan prinsip transparansi, inklusi gender, dan partisipasi publik. Selain data-data primer yang dikumpulkan di atas, data-data sekunder pendukung terkait laporan pemerintah, catatan perubahan iklim, citra satelit, dan kumpulan data ilmiah lainnya. Alat analisis seperti analisis rantai sebab-akibat, penilaian risiko lingkungan, dan pemetaan pemangku kepentingan akan diterapkan dalam TDA untuk mengidentifikasi faktor-faktor utama yang memicu masalah dalam tata kelola DAS serta menentukan bidang-bidang prioritas untuk intervensi tata kelola DAS yang lebih baik baik dari segi peningkatan kebijakan ataupun perbaikan dan peningkatan perencanaan pembangunan di DAS Lintas Batas Negara dan pelaksanaannya. (InTI)