Memperkuat PPL sebagai Strategi Mengembangkan Praktik Pertanian Lahan Kering yang Lebih Baik di Kawasan DAS
Apa yang dilakukan ketika tanaman mulai terserang hama? Berapa banyak pupuk yang dibutuhkan? Bagaimana menyiapkan lahan dan mengelola air ketika ketersediaannya terbatas? Pertanyaan seperti ini menjadi bagian dari pekerjaan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) saat mendampingi petani. Jawabannya tidak selalu sama karena setiap lahan, tanaman, musim, dan kondisi petani memiliki tantangan yang berbeda. Karena itu, PPL perlu memahami Good Agriculture Practice (GAP) dalam konteks pertanian lahan kering, agar mampu menerjemahkannya menjadi pengetahuan praktis yang dapat digunakan petani.
Atas kebutuhan tersebut, Inovasi Tangguh Indonesia (InTI) memfasilitasi Training of Trainers (ToT) GAP bagi PPL di Kabupaten Belu dan Malaka melalui Proyek TIWA. Kegiatan ini mendukung pengelolaan lahan dan air yang berkelanjutan di kawasan DAS Talau-Loes dan Motamasin, sekaligus melanjutkan penguatan kapasitas kelompok tani di delapan desa dampingan proyek.
Pembelajaran dimulai dari budidaya tanaman sehat, persiapan lahan, pembuatan bedengan, persemaian, perlakuan benih, hingga pemupukan. Peserta juga belajar menghitung kebutuhan pupuk. Bagi sebagian peserta, perhitungan kebutuhan kompos per hektare dan pengukuran pH tanah belum menjadi praktik yang dilakukan secara rutin.
Materi hortikultura menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian peserta, terutama karena sebagian besar selama ini lebih banyak mendampingi padi dan jagung. Pengalaman peserta pun beragam, dari yang telah 32 tahun menjadi PPL hingga yang baru sekitar lima bulan mendampingi petani. Karena itu, peserta meminta penjelasan lebih detail agar materi dapat digunakan dalam pendampingan.
“Ini bisa menjadi acuan ketika kami mendampingi petani. Terutama bagaimana menghitung dosis pupuk dan melakukan pemupukan dengan tepat,” kata seorang peserta pelatihan dari Malaka.
Bagi peserta, praktik pertanian yang baik juga berkaitan dengan ketahanan pangan. Produksi yang dikelola dengan baik diharapkan dapat meningkatkan hasil dan produktivitas, sekaligus mendukung ketersediaan pangan.
Belajar dari pengamatan di lapangan
Pembelajaran dilanjutkan dengan praktik pengamatan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) di empat kebun dengan komoditas kubis, bawang merah, buncis, dan cabai. Peserta mengamati kondisi tanaman, mencatat temuan, lalu mendiskusikan dan mempresentasikan hasilnya. Dari pengamatan tersebut, muncul berbagai pembahasan, mulai dari kondisi tanaman hingga pengalaman peserta dalam menangani komoditas yang mereka temui di lapangan.
“Materi ini sangat aplikatif. Khususnya tentang OPT, ini menjadi wawasan yang mendasar bagi kami sehingga kami semakin bisa jeli melihat gejala-gejala yang ditemukan,” ujar seorang peserta pelatihan dari Belu.
Salah satu diskusi menarik muncul saat peserta mengamati tanaman buncis. Mereka umumnya memahami bahwa buncis hanya dapat dipanen sekitar tujuh hingga delapan kali. Namun, melalui pengamatan dan diskusi, peserta mengetahui bahwa dengan pengelolaan yang tepat, tanaman buncis yang masih dalam kondisi baik dapat dipelihara dan menghasilkan panen berikutnya. Temuan ini mendorong pertukaran pengalaman dan memperkaya pemahaman antarpeserta.
Bagi PPL pendamping Desa Alas Selatan, Malaka, praktik lapangan ini juga menjadi kesempatan untuk menghubungkan materi yang dipelajari dengan kegiatan yang sudah mereka lakukan.
“Yang kita pelajari hari ini memang masih teori. Tapi di Desa Alas Selatan, sebagian sudah kami praktikkan. Jadi ini bukan hanya pengetahuan, tetapi pengalaman nyata yang bisa kami terapkan ke depan.”
Pengetahuan untuk pendampingan
Tata kelola air melalui pendekatan Recharge (Mengisi), Retention (Menyimpan), Reuse (Menggunakan Kembali) yang sering disebut 3R menjadi i pembelajaran di pertanian lahan kering dimana PPL mempelajari bagaimana air dapat dikelola secara efisien, efektif dan berkelanjutan untuk mendapatkan panen yang lebih baik tanpa menimbulkan risiko kerusakan lingkungan. Materi yang diperoleh dapat digunakan PPL untuk memperbaiki pendampingan, sekaligus membantu memberikan wawasan, motivasi, dan kesadaran kepada petani. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta pelatihan. Namun, mereka masih melihat perlunya pendalaman, terutama untuk memahami pengelolaan hortikultura secara lebih menyeluruh.
“Materi ini sangat bagus dan benar-benar bisa menjadi bekal bagi kami untuk memperbaiki pendampingan, memberikan wawasan, serta mendorong motivasi dan kesadaran petani,” kata seorang anggota PPL lain dari Belu.
Peserta pelatihan dari unsur koordinator atau dinas akan membawa hasil pelatihan ke rapat koordinasi untuk menjadi bahan perencanaan capacity building bagi PPL lainnya. Dalam proses tersebut, dukungan dan pendampingan dari tim InTI masih dibutuhkan agar pembelajaran dapat diteruskan.
ToT GAP bagi PPL ini dilaksanakan di Kabupaten Belu pada 24–26 September 2026 dan Kabupaten Malaka pada 28–30 September 2026, dengan masing-masing melibatkan kurang lebih 30 orang PPL. (InTI)