Cerita dari Belu: Menentukan Langkah Baru Pertanian Berkelanjutan di Empat Desa

Apa yang sebenarnya terjadi ketika hasil panen di ladang dan sawah terus menurun? Pertanyaan ini sering kali dijawab dengan alasan umum seperti kelangkaan pupuk atau cuaca yang tidak menentu. Namun, masyarakat di Desa Asumanu, Baudaok, Tohe, dan Maumutin, Kabupaten Belu, menemukan gambaran permasalahan yang lebih mendasar. Sebelumnya, melalui proses Participatory Rural Appraisal (PRA), mereka memetakan kondisi desanya dan menyadari bahwa penurunan hasil panen adalah bagian dari rantai persoalan yang saling berkaitan. Di balik rendahnya produksi pertanian, terdapat masalah kelompok tani yang tidak aktif, minimnya minat anak muda untuk bertani, hingga ancaman lingkungan seperti longsor dan kekeringan. Meski begitu, keempat desa ini masih memiliki potensi yang sama, yaitu ketersediaan sumber mata air, kearifan adat yang kuat, serta beragam komoditas pertanian lokal.

Walaupun menghadapi tantangan dan memiliki potensi yang mirip, hasil PRA yang dipaparkan pada awal Agustus 2026 kemarin menunjukkan bahwa setiap desa membutuhkan pendekatan penyelesaian yang berbeda. Di Asumanu, kendala utama berada pada tahap produksi akibat serangan hama dan keterlambatan distribusi pupuk. Oleh karena itu, langkah tindak lanjut yang disepakati berfokus pada perbaikan praktik budidaya dan penguatan mitigasi lingkungan di kawasan DAS Talau-Loes. Kondisi ini berbeda dengan Baudaok. Masyarakat di sana sebenarnya mampu berproduksi dengan baik, tetapi sering terkendala harga yang tidak stabil dan sistem ijon. Bagi mereka, peningkatan ekonomi keluarga baru bisa dicapai jika keterampilan pascapanen ditingkatkan dan pemuda dilibatkan untuk mengolah hasil panen menjadi produk bernilai jual lebih tinggi, tidak sekadar menjual komoditas mentah.

Sementara itu, persoalan di Desa Tohe dan Maumutin menunjukkan dinamika yang berbeda lagi. Warga Tohe menghadapi masalah berkurangnya tenaga kerja produktif karena banyak pemuda yang lebih memilih merantau, sebuah kondisi yang diperparah oleh kerusakan saluran irigasi desa. Realitas ini mendorong warga Tohe untuk memprioritaskan perbaikan jaringan air, membuat kesepakatan tata kelola irigasi lintas desa, serta memberdayakan kembali petani muda. Di sisi lain, masalah yang mengemuka di Maumutin sangat berkaitan dengan menurunnya kepatuhan terhadap kearifan lokal. Penggunaan benih lokal yang dilakukan secara berulang tanpa dukungan sarana produksi yang memadai, ditambah dengan perluasan lahan yang mengancam sumber air, menyadarkan warga Maumutin akan pentingnya memulihkan ekosistem hutan penyangga dan mengoptimalkan fungsi lembaga ekonomi desa seperti BUMDes.

Pemaparan hasil PRA pada awal Agustus tersebut pada akhirnya tidak sekadar menjadi ajang penyampaian laporan kajian. Kehadiran sekitar 80 hingga 90 persen warga yang sebelumnya tidak terlibat dalam proses pemetaan awal, menjadikan forum ini sebagai ruang diskusi dan pembelajaran lintas desa yang efektif. Dari proses ini, muncul rasa kepemilikan (community ownership) yang kuat dari masyarakat karena mereka berhasil menilai gambaran nyata dari kondisi desa mereka sendiri. Masyarakat menjadi lebih paham bahwa pengelolaan air yang lebih baik, pelestarian lingkungan hidup, penerapan kearifan lokal, dan keterlibatan bermakna seluruh masyarakat adalah satu kesatuan upaya yang akan sangat memengaruhi masa depan desa, terutama dalam mewujudkan pertanian yang tahan risiko perubahan iklim dan bencana.

Pada titik inilah proses PRA menunjukkan peran pentingnya. Kajian ini tidak menghasilkan satu rekomendasi seragam untuk semua wilayah, melainkan mendorong ruang diskusi agar masyarakat dapat menentukan sendiri solusinya. Dengan pemahaman yang lebih terstruktur mengenai akar masalahnya, kini setiap desa dapat menentukan prioritas langkah apa yang harus diambil dan pihak mana saja yang perlu dilibatkan. Ke depannya, perbaikan sektor pertanian di keempat desa ini bukan hanya berfokus pada cara meningkatkan produksi panen, melainkan pada upaya membangun kapasitas masyarakat agar mandiri dalam menjaga lingkungan, melestarikan tradisi, dan mengelola desanya sendiri secara berkelanjutan. (InTI)

Share