Langkah Nyata Praktik Pertanian Berkelanjutan di Belu dan Malaka
Menemukan masalah utama dari menurunnya hasil panen adalah langkah awal untuk memperbaiki sektor pertanian di wilayah perbatasan. Hasil Participatory Rural Appraisal (PRA) di delapan desa target di dua kabupaten menunjukkan bahwa mayoritas petani belum menerapkan Good Agriculture Practices (GAP). Merespons temuan tersebut, Proyek Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Lintas Negara Indonesia dan Timor Leste (TIWA) yang melibatkan InTI dan didukung oleh Conservation International (CI) dan Global Environment Facility (GEF), langsung mengambil tindakan melalui inisiatif pilot pertanian berupa demplot (lahan percontohan) budidaya sayur-mayur secara lebih ramah lingkungan dan peka terhadap Risiko perubahan iklim.
Sebagai tindak lanjut, Pelatihan GAP diselenggarakan pada 10 hingga 14 Agustus 2026 lalu. Kegiatan ini melibatkan sekitar 15 kelompok tani yang mewakili kelompok tani dari delapan desa sasaran Proyek TIWA. Selain petani, pelatihan ini juga merangkul 10 Petugas Penyuluh Pertanian (PPL) dari Kecamatan Raihat dan Lasiolat di Kabupaten Belu, serta Kecamatan Kobalima Timur di Kabupaten Malaka. Pelibatan para PPL ini merupakan langkah strategis mengingat terbatasnya alokasi pelatihan dari pemerintah untuk mereka, proyek TIWA memberikan dukungan kapasitas agar PPL tersebut dapat menyebarluaskan praktik GAP ke desa-desa lain di sepanjang kawasan DAS.
Dalam pelatihan ini, para peserta diajak untuk mempelajari teknik budidaya yang lebih tepat dan efisien. Pendekatan pelatihan dirancang agar tidak sekadar berupa teori di dalam kelas. Peserta mendapatkan materi pengantar budidaya, teknik persiapan lahan dan pembuatan bedengan, hingga metode persemaian. Mereka juga belajar menghitung kebutuhan pupuk, sebuah kemampuan teknis yang sangat penting untuk menjaga kualitas tanah dan menghindari penggunaan pupuk kimia yang berlebihan yang bisa mengganggu ekosistem baik tanah maupun air. 
Penerapan hasil pembelajaran langsung dilakukan di demplot. Demplot ini sekaligus menjadi ruang interaksi yang efektif, di mana narasumber memberikan pendampingan langsung, menjawab pertanyaan, dan memberikan masukan teknis kepada kelompok tani saat praktik di lahan. Rangkaian kegiatan pada pertengahan Agustus ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan bertani masyarakat, memaksimalkan hasil panen, dan pada akhirnya mendukung kemandirian ekonomi di wilayah perbatasan.
Menindaklajuti kegiatan pelatihan GAP ini, kegiatan pilot Good Agriculture Practice masuk ke tahap yang dinantikan oleh kelompok tani. Kelompok tani yang telah membangun bedengan-bedengan sebagai demo plot. Sejak tanggal 21 Agustus yang lalu, mereka telah menerima sarana produksi pertanian (saprotan) yang akan mereka gunakan untuk praktik GAP tersebut yang terdiri dari perlengkapan untuk persemaian, benih, pupuk, pestisida. Selain itu mereka juga menerima alat-alat untuk membantu kelompok-kelompok tani bekerja di lahan, seperti mulsa, selang, selang irigasi tetes, tangki air, dan peralatan lainnya. Kelompok tani dan InTI sangat menyambut baik kegiatan ini dan menantikan hasil pilot GAP tiga hingga empat bulan mendatang. (InTI)