Melihat Akar Masalah: Pembelajaran PRA di Tohe dan Maumutin

Rangkaian Participatory Rural Appraisal (PRA) di Kabupaten Belu terus berlanjut setelah masyarakat Desa Baudaok dan Desa Asumanu terlibat dalam proses penggalian informasi dan analisis partisipatif, kegiatan serupa kemudian dilaksanakan di Desa Tohe dan Desa Maumutin pada 4–5 Juni 2026. Meski sama-sama bertujuan menggali potensi dan persoalan desa, pengalaman yang muncul di kedua desa memiliki warna yang berbeda.

Di Desa Tohe, diskusi banyak berkisar pada pada penyebab berbagai persoalan yang selama ini memengaruhi hasil pertanian dan pengelolaan sumber daya alam untuk penghidupan dan kehidupan warga. Sementara di Desa Maumutin, diskusi merefleksikan perubahan- perubahan pola pertanian, kondisi lingkungan, serta berkurangnya praktik-praktik lokal yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang terjadi dari waktu ke waktu. Melalui berbagai alat kajian PRA, masyarakat di kedua desa diajak mendiskusikan akar penyebab permasalahan dan dampak permasalahan terhadap penghidupan dan kehidupan masyarakat.

Dari Hasil Panen hingga Kesadaran Baru di Desa Tohe

Bagi masyarakat Desa Tohe, proses PRA menjadi ruang untuk melihat kembali berbagai persoalan yang selama ini mereka hadapi dalam sektor pertanian dan pengelolaan sumber daya alam. Melalui diskusi kelompok dan pleno, peserta mengidentifikasi sejumlah masalah yang dianggap paling berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat, antara lain hasil panen yang rendah, penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang, keterbatasan tenaga kerja, saluran irigasi yang rusak, pengaturan air lintas desa, kelompok tani yang belum aktif, hingga menurunnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian. Selain persoalan pertanian, masyarakat juga mengingat berbagai kejadian yang pernah memengaruhi kondisi desa mereka. Dalam kajian sejarah dan risiko bencana desa, peserta menyoroti kejadian banjir bandang yang menyebabkan rusaknya puluhan hektar lahan pertanian serta mengakibatkan hilangnya ternak milik warga. Masyarakat mengaitkan penyebab kejadian tersebut dengan berkurangnya tutupan hutan yang sebelumnya berfungsi menjaga daerah aliran sungai.

Salah satu refleksi penting yang muncul dari proses PRA adalah tumbuhnya kesadaran peserta bahwa tidak semua persoalan berasal dari faktor di luar masyarakat. Dalam kesimpulan kegiatan, peserta menyampaikan bahwa PRA membantu mereka memahami akar masalah yang selama ini dihadapi, termasuk faktor-faktor yang berkaitan dengan perilaku dan kebiasaan yang berkembang di dalam masyarakat sendiri. Mereka berharap kesadaran tersebut dapat mendorong perubahan perilaku dan menginspirasi masyarakat lain untuk terlibat dalam upaya perbaikan bersama.

Bagi Flavianus Lau yang bertugas sebagai co-fasilitator sekaligus penyuluh pertanian lapangan (PPL), pengalaman tersebut memberikan perspektif baru dalam mendampingi masyarakat.

“Saya jadi mengetahui masalah yang sebenarnya terjadi di petani, dan itu bukan masalah yang muncul dari asumsi saya pribadi.”

Menurutnya, proses PRA membantu mengungkap persoalan yang benar-benar dirasakan masyarakat sehingga dapat menjadi dasar dalam memberikan pendampingan dan pelatihan pertanian yang lebih sesuai dengan kebutuhan petani. Ia juga melihat kegiatan ini sebagai sarana untuk mendorong masyarakat memanfaatkan potensi lahan yang belum digunakan secara optimal.

Kesan serupa disampaikan Merlin Pereira yang menilai PRA membantu masyarakat melihat hubungan antara potensi dan persoalan yang ada di desa mereka.

“Ternyata masalah ada karena kelalaian kami sendiri. Dengan kajian PRA ini, kami banyak mengetahui potensi dan masalah yang ada di desa kami.”

Merefleksikan Perubahan dan Kearifan Lokal di Desa Maumutin

Di Desa Maumutin, proses PRA membawa masyarakat untuk melihat kembali perubahan yang terjadi dalam kehidupan mereka selama beberapa dekade terakhir. Dalam kajian sejarah desa, masyarakat membandingkan kondisi masa lalu ketika pertanian masih banyak dilakukan secara gotong royong dan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan keluarga, dengan kondisi saat ini yang semakin dipengaruhi kemajuan teknologi pertanian dan penggunaan berbagai sarana produksi dari luar desa. Melalui diskusi tersebut, masyarakat mengidentifikasi berbagai perubahan yang mereka rasakan, mulai dari berkurangnya praktik gotong royong, meningkatnya biaya produksi pertanian, hilangnya sebagian pengetahuan lokal, hingga munculnya berbagai persoalan lingkungan dan pertanian yang mereka hadapi saat ini. Masyarakat juga mengingat berbagai kejadian dalam sepuluh tahun terakhir, seperti hilangnya sumber mata air, banjir, dan angin puting beliung yang berdampak pada lahan pertanian, saluran irigasi, dan permukiman warga.

Dalam proses perengkingan dan skoring, masyarakat menempatkan beberapa persoalan sebagai prioritas utama, antara lain keterbatasan sarana produksi pertanian, penggunaan benih lokal secara berulang, serta berkurangnya ketaatan terhadap kearifan lokal. Selain itu, masyarakat juga menyoroti menurunnya produksi pertanian, kerusakan ekosistem hutan, longsor dan banjir, serta belum optimalnya fungsi pasar perbatasan dan BUMDes.

Bagi Marita Da Costa Pires yang menjadi co-fasilitator, keterlibatannya dalam PRA memberikan pengalaman yang membuka cara pandang baru terhadap kondisi desa.

“Kegiatan PRA ini sangat bermanfaat dan membuka wawasan untuk mengamati dan menganalisis potensi serta permasalahan dalam desa kami. Kegiatan ini membuat saya lebih memahami kondisi nyata di lapangan, mengetahui potensi yang dimiliki, serta menyadari bahwa perubahan dan perbaikan bisa dimulai dari kesadaran dan kerja sama kita sendiri.”

Marita juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga dan memanfaatkan sumber daya alam secara bijak agar tetap lestari bagi generasi mendatang.

Refleksi yang tidak kalah menarik disampaikan Arkadisu Besin, Ketua RT Dusun Foho Maek. Menurutnya, proses PRA membantu masyarakat melihat hubungan antara keputusan yang diambil hari ini dengan kehidupan generasi berikutnya.

“Dengan kegiatan ini menyadarkan apa yang sudah kami lakukan di masa lampau akan terbawa ke kehidupan anak cucu kami.”

Ia menilai proses PRA membantu masyarakat menganalisis potensi dan permasalahan desa secara lebih mendalam sekaligus mengingat kembali berbagai peristiwa yang pernah terjadi dalam perjalanan desa mereka.

Belajar Memahami Desa dari Pengalaman Masyarakat

Baik di Tohe maupun Maumutin, PRA tidak hanya menghasilkan daftar persoalan dan potensi desa. Lebih dari itu, proses ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk mendiskusikan pengalaman mereka sendiri, memahami hubungan antara kondisi lingkungan dan kehidupan sehari-hari, serta menggali akar penyebab berbagai persoalan yang dihadapi termasuk akibat perilaku mereka terhadap lingkungan.

Melalui proses tersebut, masyarakat tidak hanya mengenali tantangan yang ada di desa mereka, tetapi juga mulai melihat bahwa perubahan dapat dimulai dari kesadaran, perubahan perilaku, kerja sama, dan keterlibatan masyarakat itu sendiri. Bagi para peserta dan co-fasilitator, pembelajaran tersebut menjadi salah satu hasil penting dari PRA yang diharapkan dapat terus berkembang dalam proses perencanaan dan pembangunan desa ke depan. (InTI)

Share