Dari Mendengar ke Memahami: Pembelajaran Masyarakat dalam PRA di Asumanu dan Baudaok

Setelah pelaksanaan Participatory Rural Appraisal (PRA) di empat desa di Kabupaten Malaka, rangkaian kegiatan serupa berlanjut ke Kabupaten Belu. Pada 2–3 Juni 2026, masyarakat Desa Baudaok dan Desa Asumanu terlibat dalam proses kajian partisipatif untuk menggali kondisi desa, mengidentifikasi persoalan dan potensi yang dimiliki, serta mendokumentasikan pengalaman masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Meski menggunakan metode yang sama, pengalaman yang muncul di setiap desa memiliki cerita yang berbeda. Di Baudaok, hal yang paling banyak muncul adalah bagaimana proses PRA membantu masyarakat dan co-fasilitator mengenali persoalan serta potensi desa yang sebelumnya belum mereka lihat secara utuh. Sementara di Asumanu, pengalaman peserta lebih banyak diwarnai oleh tantangan dalam menggali informasi lapangan sekaligus membahas berbagai persoalan pertanian dan lingkungan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari.

Di Desa Baudaok, kegiatan difasilitasi oleh tim Inovasi Tangguh Indonesia (InTI) bersama Maria Magdalena Tahan dan Jonisius Mau sebagai co-fasilitator dari Gugus Tugas Komunitas (GTK). Melalui berbagai alat kajian PRA, masyarakat membahas kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan desa sekaligus mengidentifikasi berbagai persoalan yang mereka hadapi.

Bagi Elfrida Moin Taek, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar, kesempatan untuk menyampaikan pendapat menjadi pengalaman yang paling berkesan selama kegiatan berlangsung.

“Merasa senang mengikuti kegiatan PRA karena dalam kegiatan ini semua diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapat terkait keadaan di desa.”

Keterlibatan sebagai co-fasilitator juga memberikan pengalaman tersendiri bagi Maria Magdalena Tahan. Sekretaris Desa Baudaok tersebut mengaku sempat merasa gugup saat memfasilitasi proses kajian meskipun sebelumnya telah mengikuti pelatihan PRA.

“Saat ini saya dipercaya sebagai co-fasilitator, saya merasa gugup, tapi saya belajar kembali cara menggunakan alat PRA karena sudah diberi pelatihan sebelumnya.”

Menurut Maria, proses tersebut membantunya memahami kondisi desa secara lebih menyeluruh. Hal senada disampaikan Jonisius Mau, yang juga menjabat sebagai Ketua Gugus Tugas Komunitas (GTK) DAS Talau-Loes, dimana penggunaan alat-alat PRA membantunya melihat berbagai persoalan, kondisi, dan potensi desa secara lebih sistematis.

“Saya senang karena bisa mengetahui secara baik kondisi permasalahan, kondisi, dan potensi desa, serta mendukung perencanaan desa kami khususnya di DAS Talau-Loes.”

Pemahaman yang diperoleh selama PRA dinilai tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat, tetapi juga dapat mendukung perencanaan pembangunan desa. Informasi mengenai potensi, permasalahan, serta hubungan antara kondisi lingkungan dan aktivitas masyarakat menjadi bahan penting untuk melihat kebutuhan desa secara lebih utuh sebagai dasar perencanaan ke depan. Melalui proses kajian tersebut, masyarakat Baudaok mengidentifikasi permasalahan terkait keterbatasan ketersediaan air, ancaman longsor, serangan hama tanaman, penyakit ternak, serta keterbatasan sarana dan prasarana pertanian yang mempengaruhi kehidupan dan penghidupan masyarakat sehari hari. Di sisi lain, masyarakat juga memetakan berbagai potensi yang dimiliki desa, terutama di sektor pertanian, perkebunan, dan peternakan. Dalam refleksi kegiatan, peserta yang hadir dari unsur kepala kewilayahan, kelompok tani, RT/RW, GTK, dan masyarakat menyampaikan bahwa proses PRA membantu mereka memahami pentingnya kerja sama, penguatan kelompok tani, pengelolaan sumber daya alam, serta perencanaan pembangunan yang berangkat dari kebutuhan nyata masyarakat.

Sementara itu, di Desa Asumanu, proses PRA menghadirkan pengalaman yang berbeda. Selain menggali berbagai informasi mengenai kondisi desa saat ini, masyarakat juga menelusuri kembali berbagai peristiwa penting yang pernah memengaruhi kehidupan mereka dalam kurun waktu sekitar 10 hingga 20 tahun terakhir, termasuk longsor, banjir, dan curah hujan tinggi.

Pelaksanaan PRA di Asumanu tidak lepas dari berbagai tantangan. Beberapa lokasi kajian berada cukup jauh dari permukiman dan sulit dijangkau. Selain itu, proses dokumentasi juga harus menyesuaikan dengan aturan adat setempat yang tidak memperkenankan sumber mata air tertentu untuk dipublikasikan. Perbedaan pandangan antara tokoh masyarakat dan kepala kewilayahan dalam beberapa sesi diskusi turut menjadi bagian dari dinamika proses kajian. Meski demikian, masyarakat berhasil mengidentifikasi sejumlah persoalan yang dianggap paling berpengaruh terhadap kehidupan mereka. Dalam proses perengkingan dan skoring, peserta menyoroti rendahnya hasil pertanian, ketidakstabilan harga komoditas, keterlambatan ketersediaan pupuk, tingginya serangan hama dan penyakit tanaman, serta ketidakpastian curah hujan sebagai persoalan yang perlu mendapat perhatian. Masyarakat juga membahas dampak longsor yang menyebabkan berkurangnya lahan pertanian di beberapa wilayah desa.

Berbagai persoalan tersebut tidak hanya menjadi bahan diskusi selama kegiatan berlangsung, tetapi juga diharapkan dapat menjadi masukan dalam penyusunan program dan kegiatan desa di masa mendatang. Diskusi yang dilakukan menunjukkan kuatnya keterkaitan antara kondisi lingkungan, perubahan musim, dan kehidupan masyarakat yang sebagian besar bergantung pada sektor pertanian.

Bagi Gerardus Bere, co-fasilitator yang juga menjabat sebagai Kepala Seksi Pelayanan Desa Asumanu, keterlibatan dalam PRA memberikan pengalaman belajar yang berharga.

“Menambah wawasan dan ilmu yang baru tentang potensi apa saja yang ada di masyarakat khususnya di sektor pertanian.”

Ia juga menilai bahwa proses PRA membantu masyarakat menyampaikan secara langsung berbagai persoalan dan potensi yang mereka miliki. Karena itu, masyarakat berharap hasil kajian yang telah disusun bersama tidak berhenti pada proses diskusi semata, tetapi dapat ditindaklanjuti untuk menjawab kebutuhan yang telah mereka identifikasi.

Baik di Baudaok maupun Asumanu, PRA menunjukkan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai wilayahnya sendiri. Ketika diberikan ruang untuk berdiskusi, memetakan kondisi desa, dan menganalisis berbagai persoalan secara bersama-sama, masyarakat tidak hanya mampu mengenali tantangan yang dihadapi, tetapi juga melihat berbagai potensi yang dapat menjadi bagian dari pembangunan desa di masa mendatang. Bagi peserta dan co-fasilitator, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting sekaligus langkah awal agar hasil kajian yang telah disusun bersama dapat dimanfaatkan dalam perencanaan dan pengembangan desa yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat. (InTI)

Share