Mengenal lebih jauh Kotabiru dan Alas Utara melalui PRA

Suasana diskusi terasa hidup selama pelaksanaan Participatory Rural Appraisal (PRA) pada 19–20 Mei 2026 di Desa Kotabiru dan Desa Alas Utara, Kabupaten Malaka. Warga dari berbagai unsur masyarakat duduk bersama untuk berbagi cerita tentang kondisi desa mereka, mengingat kembali perubahan yang telah terjadi selama bertahun-tahun di desa mereka, hingga membicarakan persoalan yang masih dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Bagi sebagian peserta, proses ini bukan sekadar forum diskusi, tetapi ruang untuk lebih memahami desa mereka sendiri dari berbagai sudut pandang.

Pelaksanaan PRA di kedua desa difasilitasi oleh Augustinna Tuty Indrawaty dan Welem Andi Tana dari Inovasi Tangguh Indonesia (InTI), bersama para co-fasilitator dari Gugus Tugas Komunitas (GTK). Di Desa Kotabiru, proses pendampingan dilakukan bersama Simon Letto dan Vitalis Berek dari GTK DAS Talau-Loes, sementara di Desa Alas Utara didampingi oleh Ferdi Loes Resensi Lau dan Desiana Gusmau dari GTK DAS Mota Masin. Selama dua hari, masyarakat mengikuti proses kajian melalui diskusi kelompok, wawancara, pleno, hingga penggunaan berbagai alat kajian PRA untuk membantu memetakan kondisi desa, mengenali perubahan yang terjadi, serta mengidentifikasi persoalan yang dirasakan masyarakat.

Meski metode yang digunakan di kedua desa relatif sama, dinamika dan pengalaman yang muncul selama proses berlangsung memperlihatkan karakter yang berbeda di masing-masing desa. Di Kotabiru, keterlibatan anak muda menjadi salah satu hal yang paling terasa selama diskusi berlangsung. Sebagian besar peserta yang hadir masih berusia muda dan aktif terlibat dalam proses kajian.

“Menjadi pengalaman baru buat kami untuk memahami kondisi wilayah desa sekaligus belajar melihat hubungan antara persoalan masyarakat dan perencanaan pembangunan desa,” ujar mereka.

Diskusi di Kotabiru berlangsung cukup terbuka dan interaktif. Keberadaan co-fasilitator dari GTK yang menggunakan bahasa lokal dinilai membantu peserta lebih nyaman dalam menyampaikan pengalaman dan pandangan mereka. Namun, peran sebagai co-fasilitator juga menjadi tantangan tersendiri. Simon Letto dan Vitalis Berek mengaku bahwa ini merupakan pengalaman pertama mereka memfasilitasi proses PRA secara langsung bersama masyarakat.

“Kajian ini akan kami gunakan juga untuk proses Musrenbang di desa,” ungkap para co-fasilitator saat menyampaikan kesan mereka setelah kegiatan berlangsung.

Mereka juga menyampaikan rasa terima kasih kepada program TIWA yang difasilitasi InTI karena telah memberikan ruang belajar sekaligus kesempatan bagi anggota GTK untuk terlibat langsung dalam proses fasilitasi di tingkat desa.

Bagi Pemerintah Desa Kotabiru, proses PRA membantu membuka ruang diskusi yang selama ini jarang dilakukan secara mendalam di tingkat masyarakat. Simon Letto, yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Kotabiru, menyampaikan bahwa selama proses kajian berlangsung, banyak persoalan desa yang muncul dan dibahas secara terbuka oleh masyarakat.

“Hasil kajian semacam ini dapat menjadi dasar penting dalam penyusunan perencanaan pembangunan desa ke depan,” Simon menyampaikan.

Pemerintah desa juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan karena dinilai mampu menghadirkan gambaran konkret mengenai kondisi masyarakat di lapangan. Bahkan, hasil kajian PRA tersebut direncanakan akan disampaikan kepada Dinas Pertanian sebagai bagian dari upaya mendorong tindak lanjut dan pendampingan yang selama ini dinilai masih minim di Desa Kotabiru.

Sementara itu, di Desa Alas Utara, proses PRA menjadi ruang belajar bersama yang mempertemukan berbagai pengalaman masyarakat tentang perubahan desa dalam beberapa tahun terakhir. Peserta yang hadir berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari tokoh adat, tokoh masyarakat, perempuan, anak muda, hingga perangkat desa dan mantan perangkat desa yang memiliki pengalaman panjang mengenai perkembangan wilayah mereka.

Keberadaan co-fasilitator dari masyarakat desa sendiri membuat proses diskusi berlangsung lebih cair dan terbuka. Penggunaan bahasa lokal membantu peserta lebih mudah menyampaikan pengalaman maupun pandangan mereka. Keragaman pengalaman peserta membuat pembahasan menjadi lebih kaya karena setiap kelompok membawa sudut pandang yang berbeda tentang kondisi sosial, lingkungan, maupun perubahan yang dirasakan masyarakat.

Desiana Gusmau, salah satu co-fasilitator di Desa Alas Utara, mengaku mendapat banyak pembelajaran selama proses berlangsung.

“Salah satu tantangan terbesar adalah saat menyusun kalender musim, terutama ketika peserta mencoba mengingat kembali pola musim dan masa panen lima hingga sepuluh tahun lalu yang kini mulai mengalami perubahan,” ungkap Desiana.

Ia juga menyoroti proses penyusunan diagram venn, di mana masyarakat lebih banyak melihat peran pemerintah desa sebagai lembaga yang paling dirasakan manfaatnya.

“Dan itu semua menjadi pembelajaran baik, bisa belajar dari tim fasilitator,” tambah Desiana saat menyampaikan kesannya setelah kegiatan berlangsung.

Hal serupa juga dirasakan oleh Ferdi Loes Resensi Lau yang mengaku masih belajar bagaimana memfasilitasi peserta dan menyampaikan hasil diskusi kepada masyarakat saat presentasi berlangsung. Meski menghadapi tantangan, keterlibatan mereka sebagai co-fasilitator justru menjadi pengalaman baru.

“Pengalaman ini membantu saya membangun kepercayaan diri untuk terlibat lebih aktif di tengah Masyarakat,” kata Ferdi.

Pemerintah Desa Alas Utara menilai bahwa hasil kajian PRA dapat menjadi bahan penting dalam mendukung perencanaan pembangunan desa ke depan. Menurut pemerintah desa, proses ini membantu melihat kondisi desa tidak hanya dari aspek pembangunan fisik, tetapi juga dari sisi sumber daya manusia, kondisi alam, dan kebutuhan masyarakat secara lebih menyeluruh. Pemerintah desa bahkan melihat pendekatan ini dapat diterapkan dalam proses perencanaan pembangunan di tingkat dusun maupun desa ke depan, termasuk dalam kegiatan Musrenbang Dusun.

Bagi masyarakat di Kotabiru dan Alas Utara, PRA menjadi lebih dari sekadar proses pengumpulan data. Kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk saling mendengar, memahami perubahan yang sedang terjadi di desa, serta mulai memikirkan solusi dan langkah pembangunan berdasarkan pengalaman dan kebutuhan masyarakat sendiri. (InTI)

Share