Belajar Mengenali Desa dari Pengalaman Masyarakat di Alas dan Alas Selatan
Di tengah diskusi yang sesekali diselingi cerita pengalaman warga, Participatory Rural Appraisal (PRA) di Desa Alas dan Desa Alas Selatan, Kabupaten Malaka, menjadi ruang yang mempertemukan banyak sudut pandang tentang desa mereka sendiri. Ada peserta yang baru pertama kali mengikuti diskusi semacam ini, ada pula anak muda yang mulai belajar berbicara di forum bersama tokoh masyarakat dan perangkat desa. Selama dua hari pelaksanaan pada 21–22 Mei 2026, masyarakat tidak hanya diajak membahas persoalan desa, tetapi juga mengingat kembali perubahan yang mereka rasakan dari waktu ke waktu, mulai dari kondisi lingkungan, pola musim, hingga kebutuhan masyarakat yang semakin berkembang. Bagi sebagian peserta, proses tersebut terasa berbeda dari pertemuan desa pada umumnya dimana mereka tidak hanya mendengar atau menerima informasi, tetapi terlibat langsung dalam memetakan kondisi desa, menyampaikan pengalaman, sekaligus mendiskusikan potensi yang dimiliki wilayah mereka. Dari proses itu, banyak peserta mengaku baru menyadari bahwa desa mereka memiliki persoalan sekaligus kekuatan yang sebelumnya jarang dibicarakan bersama.
Pelaksanaan PRA di kedua desa difasilitasi oleh tim Inovasi Tangguh Indonesia (InTI) bersama para co-fasilitator dari Gugus Tugas Komunitas (GTK). Di Desa Alas, proses pendampingan dilakukan bersama Patrisius Berek dan Angeria S. Iku, sementara di Desa Alas Selatan didampingi oleh Alfonsius Mau dan Karolina Bete. Selama dua hari, proses kajian dilakukan melalui diskusi kelompok, wawancara, hingga dialog interaktif untuk menggali berbagai informasi mengenai kondisi desa. Seperti di desa-desa lainnya, berbagai alat kajian PRA digunakan dalam proses tersebut, mulai dari transek desa, peta desa, sejarah desa dan sejarah risiko, kalender musim, pohon masalah, hingga diagram venn kelembagaan.
Di Desa Alas, keberadaan anak muda dalam proses kajian menjadi aspek inklusi yang cukup menonjol. Sebagian besar peserta yang hadir masih berusia muda dan aktif terlibat dalam proses diskusi. Kehadiran mereka dinilai memberi dampak positif karena proses PRA tidak hanya menjadi ruang diskusi anak muda, tetapi juga ruang pembelajaran mereka untuk lebih mengenal wilayah desa dan memahami bagaimana mereka bisa ikut menyusun perencanaan program berdasarkan persoalan dan kebutuhan masyarakat.
“PRA ini membuat kami bisa memahami tentang masalah sekaligus kekuatan atau potensi tersembunyi yang dimiliki desa dan bisa menetapkan kegiatan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ungkap salah satu co-fasilitator saat menyampaikan kesannya setelah kegiatan berlangsung.
Bagi para co-fasilitator di Desa Alas, keterlibatan dalam PRA juga menjadi tantangan tersendiri karena sebagian besar baru pertama kali mengenal PRA dan memfasilitasi diskusi bersama masyarakat. Begitu pula dengan peserta yang sebagian besar baru pertama kali mengikuti proses diskusi kelompok dan dialog kajian PRA. Namun justru dari pengalaman tersebut, para peserta merasa mulai memahami cara melihat persoalan desa secara lebih terstruktur dan partisipatif. Para co-fasilitator juga menyampaikan bahwa berbagai alat PRA yang dipelajari selama kegiatan dapat digunakan kembali dalam proses Musyawarah Desa di masa mendatang. Mereka berharap hasil kajian PRA nantinya dapat diserahkan kepada pemerintah desa agar dapat menjadi acuan dalam penyusunan program dan Musrenbang tahun berikutnya.
Sementara itu, di Desa Alas Selatan, proses PRA menjadi ruang yang mempertemukan pengalaman antara orang tua, anak muda, dan perangkat desa dalam melihat kembali perubahan desa mereka. Diskusi berlangsung cukup aktif karena peserta berasal dari berbagai kelompok masyarakat dan membawa pengalaman yang berbeda tentang kondisi wilayah desa.
“Kajian PRA yang difasilitasi oleh InTI dan co-fasilitator membuat kami sebagai orang tua dan anak muda mulai memahami tentang kondisi dan keberadaan wilayah desa kami, seperti masalah, potensi, dan keterlibatan beberapa komponen di desa kami,” ungkap peserta saat sesi refleksi kegiatan.
Bagi masyarakat Desa Alas Selatan, PRA membantu mereka melihat kembali perkembangan desa dalam rentang waktu yang panjang, termasuk perubahan yang terjadi dalam 20 tahun terakhir hingga kondisi desa saat ini. Keterlibatan orang tua dan anak muda dalam proses diskusi juga dinilai penting karena membantu pemerintah desa mendapatkan gambaran yang lebih lengkap tentang kebutuhan masyarakat di masing-masing dusun secara lintas generasi. Meski demikian, para co-fasilitator di Desa Alas Selatan mengaku masih menghadapi tantangan karena belum sepenuhnya menguasai PRA dan baru pertama kali memfasilitasi proses kajian bersama masyarakat. Namun pengalaman tersebut justru menjadi ruang belajar baru bagi mereka untuk memahami cara membangun diskusi yang partisipatif di tingkat desa. Peserta dan pemerintah desa Alas Selatan berharap hasil kajian PRA ini tidak berhenti sebagai proses diskusi semata tetapi juga dapat digunakan sebagai dasar dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat, Musrenbang Desa, hingga penyusunan program dana desa agar lebih sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat.
Di Desa Alas maupun Alas Selatan, PRA akhirnya tidak hanya dipahami sebagai metode kajian atau pengumpulan data semata tetapi juga menjadi pengalaman bersama yang membantu masyarakat belajar berbicara tentang desanya sendiri, mendengar pengalaman warga lain, dan memahami bahwa setiap perubahan maupun persoalan yang terjadi di desa dapat menjadi bahan pembelajaran untuk menentukan arah pembangunan ke depan. Bagi para co-fasilitator dan peserta, pengalaman pertama memfasilitasi diskusi, menyampaikan pendapat di forum, hingga mencoba memahami berbagai tools PRA justru menjadi bagian penting dari proses belajar tersebut.
Harapan yang muncul dari masyarakat di 2 desa di atas pun sederhana, yaitu agar hasil kajian yang telah disusun bersama benar-benar bisa digunakan dalam proses perencanaan pembangunan desa dan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Bagi mereka, memahami desa bukan hanya tentang melihat persoalan yang ada hari ini, tetapi juga tentang menyiapkan langkah yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat di masa mendatang. (InTI)